![]() |
| Ketua DPC GMNI Baubau, Dhira Adiyatma Jaya. |
StasiunBerita.id, Baubau - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Baubau mendesak Pemerintah Kota Baubau untuk segera mengambil langkah konkret dalam melestarikan Bahasa Wolio melalui jalur pendidikan formal.
Desakan tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kian menurunnya penggunaan Bahasa Wolio di kalangan generasi muda. GMNI menilai, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan warisan sejarah masyarakat Baubau yang harus dijaga secara sistematis.
Ketua DPC GMNI Baubau, Dhira Adiyatma Jaya, menegaskan bahwa di tengah arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, eksistensi bahasa daerah menghadapi tantangan serius. Tanpa kebijakan yang jelas dan terukur, Bahasa Wolio dikhawatirkan semakin terpinggirkan bahkan kehilangan penutur di masa mendatang.
“Bahasa Wolio adalah jati diri masyarakat Baubau. Pemerintah daerah sudah saatnya hadir dengan kebijakan nyata, menjadikannya sebagai muatan lokal wajib mulai dari tingkat SD hingga SMA,” tegasnya
GMNI memandang sektor pendidikan sebagai instrumen paling strategis untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Melalui kurikulum muatan lokal, siswa tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi juga memahami sejarah, adat, serta filosofi budaya yang berakar dari Kesultanan Buton.
Selain itu, GMNI mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh adat, budayawan, akademisi, serta Dinas Pendidikan dalam menyusun kurikulum, modul pembelajaran, hingga pelatihan guru yang kompeten mengajarkan Bahasa Wolio.
Menurut GMNI, langkah pelestarian bahasa daerah sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 yang menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia dan menjamin masyarakat untuk memelihara serta mengembangkan nilai budayanya.
Sebagai organisasi kader yang konsisten pada perjuangan ideologis dan kebudayaan, GMNI menyatakan siap menjadi mitra kritis sekaligus mitra kolaboratif pemerintah dalam merumuskan kebijakan pelestarian Bahasa Wolio.
“Ini bukan sekadar isu budaya, tetapi menyangkut masa depan identitas daerah. Kami berharap Wali Kota Baubau segera merespons dan merealisasikan pengajaran Bahasa Wolio di sekolah-sekolah,” tutupnya.
(Stasiunberita/Redaksi)
