![]() |
| (Kiri) Wakil Bupati merokok saat upacara kenegaraan, (Kanan) Ketegangan terjadi di rumah jabatan saat adu argumen. (Foto: Ist) |
StasiunBerita.id, Buton Selatan - Ketegangan di lingkaran pimpinan pemerintahan daerah kembali menjadi perhatian setelah terjadinya insiden di rumah jabatan (rujab) bupati Kabupaten Buton Selatan, Rabu (11/3/2026). Kedatangan Wakil Bupati di rujab memicu suasana panas yang berujung pada adu argumen dengan sejumlah pihak di lokasi tersebut.
Situasi yang seharusnya berlangsung dalam suasana formal justru berubah menjadi ketegangan terbuka di depan lingkungan resmi pemerintahan.
Dalam momen tersebut, Wakil Bupati terlihat melontarkan pernyataan dengan nada tinggi yang membuat suasana menjadi tidak kondusif. Beberapa orang yang berada di lokasi tampak berusaha meredakan situasi agar ketegangan tidak semakin meluas. Insiden ini menambah daftar dinamika yang terjadi di lingkaran pimpinan daerah.
Peristiwa di rujab ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, Selasa (10/3/2026), hubungan antara Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah (Sekda) juga dilaporkan memanas. Konflik keduanya menjadi perbincangan karena terjadi di level tertinggi birokrasi daerah. Ketegangan tersebut menimbulkan kesan adanya disharmoni dalam komunikasi dan koordinasi pemerintahan.
Di tengah situasi tersebut, publik kembali mengingat sejumlah sikap kontroversial yang pernah menjadi sorotan.
Salah satunya ketika Wakil Bupati terlihat merokok di tengah berlangsungnya upacara peringatan hari kesadaran nasional, sebuah momen yang seharusnya dijalani dengan penuh kedisiplinan dan penghormatan.
Rentetan kejadian ini memperkuat persepsi publik mengenai gaya kepemimpinan yang dianggap kerap menimbulkan polemik di ruang pemerintahan.
Dalam posisi sebagai pejabat publik, setiap tindakan dan sikap yang ditampilkan di ruang formal tidak hanya dinilai sebagai perilaku pribadi, tetapi juga sebagai cerminan etika kepemimpinan.
Ketika konflik dengan pejabat birokrasi terjadi secara terbuka, ditambah dengan insiden di lingkungan rumah jabatan dan berbagai kontroversi sebelumnya, wajar jika masyarakat mulai mempertanyakan stabilitas hubungan kerja di level pimpinan daerah.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, publik tentu berharap para pemimpin daerah mampu menunjukkan sikap yang lebih tenang, profesional dan mengedepankan etika dalam setiap momentum pemerintahan.
(Stasiunberita/Redaksi)
