Tak Mau Jadi Penonton, Bupati Adios Mulai Bergerak Dorong Pabrik Aspal Buton di Tanah Sendiri

Bupati Buton Selatan H. Muhammad Adios bersama mantan Pj Bupati Buton Basiran dan perwakilan PT Jaya Trade Indonesia saat membahas peluang investasi industri pengolahan Aspal Buton di Jakarta, Senin (11/5/2026).

‎StasiunBerita.id, Jakarta — Di tengah polemik arah hilirisasi Aspal Buton (Asbuton) yang terus menjadi perdebatan publik, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan mulai menunjukkan langkah progresif.

‎Daerah penghasil Asbuton itu kini tak lagi sekadar menunggu kebijakan pemerintah pusat, tetapi mulai aktif membuka ruang investasi agar industri pengolahan Aspal Buton benar-benar tumbuh dan berkembang di Pulau Buton sendiri.

‎Langkah tersebut terlihat dalam pertemuan antara Bupati Buton Selatan, H. Muhammad Adios, bersama perwakilan PT Jaya Trade Indonesia di Jakarta, Senin (11/5/2026). Pertemuan itu membahas peluang investasi pembangunan industri pengolahan Aspal Buton di wilayah Buton Selatan.

‎Dalam agenda tersebut, Bupati Adios turut didampingi Drs. Basiran, M.Si., mantan Penjabat (Pj) Bupati Buton periode 2022–2023. Informasi mengenai pertemuan itu disampaikan Basiran melalui akun Facebook pribadinya, Basiran Lazaidi.

‎Pertemuan itu dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Buton Selatan mulai mengambil posisi strategis dalam agenda hilirisasi nasional. Pemerintah daerah tampak ingin memastikan kekayaan alam Buton tidak lagi hanya keluar sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah di daerah asalnya agar menghadirkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal.

‎Langkah Buton Selatan muncul di tengah menguatnya aspirasi publik yang menginginkan hilirisasi Aspal Buton dilakukan langsung di Pulau Buton, bukan di luar daerah. Belakangan, rencana pembangunan fasilitas pengolahan Asbuton di Karawang, Jawa Barat, memicu beragam respons masyarakat dan memunculkan pertanyaan mengenai keberpihakan industrialisasi terhadap daerah penghasil.

‎Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan memilih mengambil langkah nyata. Tidak hanya menyatakan dukungan terhadap program hilirisasi nasional, pemerintah daerah juga mulai membangun komunikasi dengan investor dan menyiapkan berbagai dukungan untuk mempercepat hadirnya industri pengolahan Asbuton di daerah sendiri.

‎Pemerintah daerah disebut siap memfasilitasi kebutuhan investor, mulai dari koordinasi lintas pemerintahan, penyiapan dokumen pendukung, hingga pengawalan proses perizinan di tingkat kementerian, khususnya terkait kawasan tambang dan kawasan industri yang direncanakan berkembang di Buton Selatan.

‎Langkah tersebut dinilai penting mengingat Pulau Buton selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan cadangan Aspal Buton terbesar di Indonesia. Namun, nilai tambah ekonomi dari sumber daya tersebut dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat setempat.

‎Dalam pemaparannya, PT Jaya Trade Indonesia menjelaskan bahwa perusahaan tersebut merupakan anak usaha PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk yang telah bergerak di bidang perdagangan aspal minyak sejak 1971 dan memiliki jaringan distribusi nasional melalui 19 Terminal Aspal Curah (TAC) di berbagai wilayah Indonesia.

‎Tak hanya bergerak di sektor distribusi, perusahaan juga telah mengembangkan studi teknologi ekstraksi Aspal Buton sejak 2010 melalui skema mini plant. Melalui anak usahanya, PT Sarana Sumber Daya Utama, perusahaan berencana meningkatkan kapasitas produksi menuju skala industri dengan target awal sekitar 25 ribu hingga 30 ribu metrik ton per tahun.

‎Perusahaan tersebut juga mengklaim telah melakukan uji penggunaan Aspal Buton ekstraksi pada ruas jalan di kawasan Bintaro, Tangerang, sejak 2017. Hingga kini, jalan tersebut disebut masih dalam kondisi baik dan belum mengalami kerusakan signifikan.

‎Meski demikian, pengembangan industri pengolahan Asbuton masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait perizinan usaha pertambangan (IUP). Karena itu, dukungan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat realisasi investasi tersebut.

‎Jika terealisasi, pembangunan industri pengolahan Aspal Buton di Buton Selatan diproyeksikan tidak hanya memperkuat rantai pasok aspal nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor aspal minyak, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, menggerakkan ekonomi lokal, serta mendorong tumbuhnya kawasan industri di Pulau Buton.

‎Di tengah tarik-menarik kepentingan dalam agenda hilirisasi nasional, langkah Buton Selatan setidaknya mengirim pesan kuat bahwa daerah mulai berupaya mengambil peran lebih besar, memastikan kekayaan alamnya tidak lagi hanya dibawa keluar sebagai bahan mentah, tetapi diolah dan memberi manfaat sebesar-besarnya di tanahnya sendiri.


(Stasiunberita/Redaksi)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama